Breaking News
Loading...

Recent Post

Showing posts with label Desa Budaya. Show all posts
Showing posts with label Desa Budaya. Show all posts
Sunday, 16 March 2014
Pantai Melur: Buatan Pengungsi Asal Vietnam ‘Si Manusia Perahu’

Pantai Melur: Buatan Pengungsi Asal Vietnam ‘Si Manusia Perahu’

Ulasan Umum

Pantai Melur terletak di sisi barat Pulau Galang, Barelang, Tanjung Pinang. Daerah ini berada di sekitar 45 km dari selatan Pulau Batam. Terkenal dengan keindahan hamparan pasir putih yang indah, Anda akan dapat menikmati indahnya suasana pantai sebagai tempat berlibur bersama teman dan keluarga terdekat. Banyak wisatawan yang tertarik mendatangi lokasi ini karena keindahan dan kebersihan pantai, sehingga suasana bersama keluarga bisa dinikmati secara maksimal. Pasir laut yang landai dan tidak memiliki karang menjadi andalannya, sehingga anak-anak kecil bisa bermain di bibir pantai tidak usah takut kakinya luka karena karang yang keras.






Desa untuk pengungsi Vietnam (sumber: en.wikipedia.org)

Pantai Melur (sumber: pasirpantai.com)
 Alkisah, pantai ini dibangun oleh seorang pengungsi Vietnam yang terbuang, dan ia sering disebut oleh masyarakat sekitar sebagai Manusia Perahu karena ia terdampar menggunakan perahu di Pulau Batam dan mencoba bertahan hidup dengan mendirikan perkampungan di Pulau Galang, yang letaknya hanya 1 km saja dari Pantai Melur. Nantinya, setelah mengunjungi pantai Andapun dapat mencoba melihat desa yang dikisahkan ini, yang dikenal sebagai desa pengungsi Vietnam di Sijantung, Pulau Galang. Lokasi tempat ini hanya berjarak 2 km saja dari area pantai.

Akomodasi

Tanjung Pinang dan Batam yang banyak dikunjungi pelancong menyediakan beragam akomodasi yang bisa Anda pilih sendiri ketika berlibur.


Transportasi

Kota Batam menjadi pintu gerbang ke Provinsi Kepulauan Riau. Anda bisa berangkat melalui Bandara Hang Nadim Batam di Batu Besar, lalu menggunakan mobil sewaan atau angkutan umum yang ongkosnya cukup murah untuk membawa Anda ke lokasi ini. Selain itu, mobil sewaan harganya berkisar sekitar 500,000 tanpa cakupan supir dan bensin, jadi Anda bisa menyesuaikan pilihan dengan budget yang dimiliki.

Kuliner

Jangan lupa untuk mencicipi berbagai makanan laut segar yang ditangkap oleh masyarakat sekitar dan diproses secara segar pula. Kepiting dan cumi-cumi dapat menjadi santap siang yang nikmat dan mudah didapat di sekitar. Lengkapi sajian anda dengan minuman kelapa muda yang sejuk dan dingin sambil beristirahat mengisi ulang tenaga. (IMS)
Friday, 14 March 2014
Rantepau, Gerbangnya Tanah Toraja

Rantepau, Gerbangnya Tanah Toraja

Bangunan rumah yang masih kental tradisi (sumber: weltrekordreise.ch)

Ulasan Umum

Bagi para wisatawan yang hendak berkunjung ke Tanah Toraja, Rantepao adalah tempat persinggahan yang nyaman dan bersahabat. Ibu Kota dari Kabupaten Toraja Utara ini memiliki daya tariknya tersendiri yang bisa dinikmati oleh para pendatang. Nuansa tradisional di kota ini pun masih kental, ditambah dengan lingkungan asri dan hijau. Kota Rantepau sering disebut sebagai kota hujan karena memang hujan sering mengguyur kota ini, sehingga menjadi sumber yang baik untuk penghidupan masyarakatnya.


Akomodasi

Sebagai pusat pariwisata dan pintu gerbang ke Tanah Toraja, tersedia banyak opsi penginapan yang nyaman, mulai dari yang harganya tinggi hingga rendah sekalipun.

Tips

Anda pun dapat membawa beberapa buah tangan dari kota ini berupa karya tradisional buatan masyarakat lokal. Beberapa contohnya adalah topeng, ukiran, benda tajam atau golok, patung kayu, kain tenun, juga miniatur rumah adat. Jangan lupa pula membeli kopi berjenis arabika dan robusta khas Toraja yang bisa diperoleh di area Pasar Bolu. Pasar Bolu adalah ini merupakan pasar yang harus dikunjungi dalam persinggahan Anda ke Rantepau, karena memang ada banyak hal menarik yang bisa Anda temui di pasar ini.



Transportasi

Untuk mencapai Rantepau, tersedia pesawat sebagai alat transportasi dari Bandara Hasanuddin Makassar ke Bandara Pongtiku Tana Toraja, dengan penerbangan yang memakan waktu sekitar 2 jam. Pastikan penerbangan Anda kembali, karena penerbangan Makasar - Tana Toraja tidak dijadwalkan untuk ada setiap harinya.

Kuliner

Dalam kunjungan ke Rantepau, jangan lupa mencicipi beberapa kuliner khas yang akan memanjakan lidah Anda. Beberapa makanan yang menjadi andalan adalah Pantollo, Pa’Piong, dan Depa Tori. Pantollo merupakan daging babi yang dipotong-potong, kemudian diproses dengan bermacam bumbu mulai dari sereh, cabe, kluwek, dan cabai. Lalu, Pa’Piong merupakan makanan dari daging babi yang bercampur dengan daun mayana dan bermacam bumbu tambahan, yang kemudian dimasukkan ke ruas bambu untuk dibakar dalam proses pematangannya. Terakhir, Depa Tori merupakan makanan dari beras ketan dicampur gula merah dan rasanya amat gurih. (IMS)
Pa'Piong (sumber: portalsolata.blogspot.com)

Thursday, 13 March 2014
Desa Prailiu: Kampung Eksotis Tak Tergerus Waktu

Desa Prailiu: Kampung Eksotis Tak Tergerus Waktu

Ulasan Umum

Desa Prailiu atau yang disebut juga sebagai Kampung Adat Prailiu merupakan ibukota kerajaan lewa kambera. Desa adat yang tak termakan oleh kemajuan waktu ini terletak di bagian Timur kota Waingapu. Keaslian kampung adat ini ditandai dengan adanya rumah adat yang diistilahkan sebagai Uma Mbatang atau Uma Hori, lalu terdapat pula kuburan megalitik yang dinamakan reti, serta patung (penji) juga beberapa benda purbakala yang terpelihara. Terdapat pula selendang dan sarung tenun ikat yang menambah kekayaan tradisi di kampung adat ini.


Rumah di Desa Prailiu (sumber: sangnona.blogspot.com)

Akomodasi

Untuk tempat beristirahat, Anda bisa menemukan beberap homestay dan hotel yang terletak di Waingapu.

Tips

Di sini memang dijual beberapa hasil kain tenun, dan wisatawan yang datang dianggap sebagai pembawa profit bagi masyarakat sekitar. Maka, lakukan transaksi Anda dengan seksama agar tidak membeli dengan harga yang terlalu tinggi. Bincangkan terlebih dahulu dan bila Anda ramah, mungkin penjual akan membantu dengan menurunkan harga yang diberikan.

Untuk mengetahui beda kain tenun asli, biasanya mereka dibuat dari bahan alami sekitar hasil kampung dengan proses yang panjang. Pewarnanya pun terbuat dari bahan alami yang dibuat dari bahan-bahan di sekitar tempat tersebut. Biasanya warna biru berasal dari pohon nira, sedangkan warna kemerahan dibuat dari akar pohon mengkudu. Keseluruhan proses ini pun dilaksanakan secara manual.
Ibu penjual kain tenun (sumber: superstock.com)


Transportasi

Untuk mencapai tempat ini, sewalah mobil dari bandara Waingapu. Bila Anda menginap di hotel, tanyakan pula apakah mereka memiliki servis jemputan untuk mengantar Anda ke sana. Tersedia pula motor taksi dalam kota yang bisa digunakan untuk membawa Anda berkeliling.

Kuliner

Jangan lupa menikmati kios makanan yang menjual ikan bakar di sekitar daerah ini dengan ikan yang segar dan diproses dengan cepat.

Kegiatan

Saksikan pula padang rumput sabana yang indah di daerah ini sebagai tambahan dari petualangan Anda di Nusa Tenggara. Selain itu, Anda juga mendapatkan kesempatan melihat proses penenunan kain yang dilakukan masyarakat lokal secara langsung. (IMS)
Tuesday, 11 March 2014
Desa Takpala: Suku Abui Primitif yang Bersahabat

Desa Takpala: Suku Abui Primitif yang Bersahabat

Ulasan Umum

Desa Takpala adalah kampung di Pulau Alor yang hingga saat ini masih dihuni oleh masyarakatnya yang primitif. Di tahun 1980, desa ini pun menjadi juara 2 tingkat nasional dalam kategori desa paling tradisional. Suku yang mendiami desa ini adalah Suku Abui. Meski yang mendiami tempat ini mungkin hanya puluhan, namun keturunannya telah mencapai ribuan orang dan menyebar. Masyarakat Abui sangat bersahaja dan ramah terhadap pengunjung yang ingin berwisata ke tempat ini.

Akomodasi

Penduduk asli (sumber: kidnesia.com)
Perumahan penduduk (sumber: travel.detik.com)
Bila Anda ingin langsung merasakan pengalaman menginap di kampung primitif, Anda bisa mencoba bermalam di salah satu rumah penduduk dengan meminta bantuan kepada kepala desa yang akan dengan senang hati mencoba membantu Anda.

Tips

Suku Abui memanfaatkan hasil alam terutama hutan dengan cara berladang atau berburu, jadi jika Anda datang di siang hari, desa akan lebih sepi karena masyarakat mencari makanan ke hutan dan berburu. Bila Anda ingin, Anda bisa mengikuti keseharian mereka langsung di lapangan.



Kuliner

Makanan asli suku Abui ialah jagung dan singkong. Mereka kadang juga mengkonsumsi nasi, namun tetap dipadukan dengan singkong dan jagung yang kemudian disebut sebagai katemak. Anda bisa ikut mencicipi makanan asli mereka langsung di sini. Selain itu, masyarakat Abui senang mengkonsumsi pisang dengan berbagai jenis proses masak yang dilakukannya. Sebagai pelengkap, akan tersedia pula teh dan kopi asli Alor yang bisa Anda coba selesai makan.

Cicipi pula sirih pinang selama berada di sini sebagai tanda persahabatan yang diberikan suku Abui kepada setiap tamu yang datang.

Kegiatan

Bila Anda ingin menyaksikan tarian khas masyarakat Abui, Anda dapat mendengarkan gemerincing gelang kaki dari hentakan kaki yang dihujamkan ke tanah oleh wanita suku Abui. Kemudian, para laki-laki pejuang akan menggemakan lagu dengan syairnya yang juga ikut beratraksi sambil mengangkat perisan dan senjata mereka. Namun, memang biaya yang harus dikeluarkan akan lebih mahal, yakni 1 juta rupiah, namun akan sepadan dengan kekayaan tradisi yang bisa Anda saksikan langsung dari masyarakatnya yang bersahabat dan bersahaja. (IMS)
Sunday, 9 March 2014
Sumenep, Benteng Budaya Madura

Sumenep, Benteng Budaya Madura

Ulasan Umum

Keraton dan Museum Sumenep (Sumber: disbudparpora.sumenep.co.id)
Sumenep terletak di ujung timur Madura dan disebut sebagai benteng budaya Madura. Sebelum Majapahit berdiri, kota ini sudah didirikan terlebih dahulu. Memang suasana di kota ini cukup berbeda dengan kota lain yang terdapat di Madura, dimulai dari cara berpakaian, cara berbahasa, dan logatnya yang santun.

Berkunjung ke kota ini, Anda akan dapat melihat sisa-sisa keindahan kerajinan yang berbekas di bangunan kuno dan kerajinan rakyat Sumenep langsung, termasuk Batik Tulis Sumenep yang terkenal.

Akomodasi

Tidak usah khawatir, pilihan penginapan cukup beragam di Sumenep dengan lokasi yang cukup strategis pula di tengah kota.

Tips

Masyarakat Sumenep memang akan berbeda dari orang Madura kebanyakan, karena memang mereka terpengaruhi oleh budaya keraton Jawa yang tenang dan sopan, jadi jangan kaget. Kabupaten Sumenep memang di kolonial dikuasai oleh keluarga Cakraningrat, yang merupakan keadipatian Madura.



Transportasi

Jembatan Suramadu bisa digunakan bila Anda melakukan perjalanan ke Sumenep dari Surabaya. Kemudian, perjalanan dari Pelabuhan Kamal ke Sumenep akan memakan waktu perjalanan sekitar 3 jam dengan minibus ataupun bus.

Kuliner

Beberapa kuliner unik yang bisa Anda makan di Sumenep bukan hanya terbatas pada soto dan sate saja. Coba juga nasi jagung yang dilengkapi lodeh dan kuah maronggi yang rasanya tradisional dan pas di lidah.

Untuk makanan kaki lima, ada pilihan goreng-gorengan dimulai dari ikan, ayam, hingga burung dara. Jika ingin mencari makanan ringan, terdapat keripik singkong, keripik tekai, lorjuk, kerupuk ikan prenduan, teripang, petis ikan madura, dan kerupuk paru.



Kegiatan

Masjid Agung Sumenep (sumber: wikipedia.org)
Ada banyak kegiatan yang bisa Anda lakukan di sumenep. Jangan lupa berkunjung ke daerah Keraton Sumenep, situs Asta Tinggi, Pantai Slopeng, Masjid Agung, Pantai Lombang, juga pantai indah lainnya. Keraton Sumenep menggambarkan akulturasi budaya Jawa, Cina, dan Eropa yang membentuk kesatuan. Terdapat nuansa keraton dengan pilar dan ornamen yang bergaya Eropa, juga atap yang mengambil unsur klenteng China.

Jangan lupa menyebrang ke Pulau Talango, yang merupakan pulau kecil nan indah. Di sini terdapat makam Sayyid Yusuf di Kecamatan Talango, yang merupakan ulama Arab yang secara gaib jenazahnya terapung melintas di depan perahu Sultan Abdurrahman yang bakal melaksanakan perjalanan ke Bali. Banyak peziarah dari Jawa Timur dan Jawa Barat yang mengunjungi situs ini dengan harapan doa mereka dikabulkan. (IMS)
Desa Kanekes: Rumahnya Suku Badui

Desa Kanekes: Rumahnya Suku Badui

Ulasan Umum

Penduduk Badui (sumber: bantenprov.go.id)
Desa Kanekes di Banten adalah tempat yang damai dengan hutan yang masih terawat. Bila Anda berkunjung ke tempat ini, banyak kearifan yang bisa diperoleh yang mengingatkan Anda akan jati diri leluhur dengan melihat kehidupan sekaum suku yang masih hidup dengan tradisi-tradisi kentalnya.

Di desa ini terdapat 56 kampung Badui. Orang Badui Dalam tinggal di Kampung Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Dan kemudian, orang Badui Luar tinggal di 53 kampung yang berada di sekitarnya yang lain. Kampung Badui Luar ini berfungsi sebagai pendamping yang akan menjaga area Badui Dalam.

Akomodasi

Apabila Anda ingin menginap di salah satu rumah di desa ini, maka Anda akan bisa tinggal di rumah-rumah tradisional Badui yang berada di Desa Cicakal. Walaupun terbuat dari bahan alami secara keseluruhan, tapi jangan salah, rumah-rumah ini dapat bertahan hingga 25 tahun dengan atapnya yang diubah 5 tahun sekali.

Anda bisa tinggal di salah satu rumah yang seragam bentuk dan rupanya di sekitar, yang memiliki panggung dan didirikan sekitar satu meter di atas tanah. Keseluruhan rumah berangka kayu dengan dinding dari anyaman bambu dan beratapkan ijuk atau rumbia.

Tips

Di desa ini tidak ada fasilitas listrik dan sinyal telepon, sehingga Anda bisa menjauhkan diri dari kesibukan sehari-hari dan merasakan alaminya hidup secara natural langsung di tempat ini.

Kuliner

Anak Suku Badui (sumber: grafoelement.blogspot.com)



Anda dapat mencoba langsung makanan tradisional Suku Badui, karena mereka pun akan dengan senang hati menjamu. Suku Badui merupakan vegetarian dengan mengambil makanan harian mereka dari alam sekitar. Anda bisa ikut makan makanan mereka termasuk mencoba buah-buahan yang didapatkan langsung dari hutan, mulai dari durian dan asam keranji, juga madu hutan.

Kegiatan

Suku Badui Dalam mengedepankan kejujuran, menolak mencemari lingkungan, dan tidak merokok. Jika Anda berkunjung, harus diingat bahwa suku Badui Dalam menerapkan adat lebih ketat dibandingkan dengan Badui Luar. Aturan adat adalah sesuatu yang mereka anggap sebagai harga mati dan tidak bisa ditawar. (IMS)
Quick Message
Press Esc to close
Copyright © 2014 Jelajah Tempat Wisata All Right Reserved